RSS

Cerpen Seorang Hujan Karya Afrizal Malna



Feb 2, 2010

AKU ingin hidup dalam tubuh seseorang, dalam kenyataan orang lain. Aku tahu itu tidak mungkin.Aku tahu itu sebuah dusta yang berusaha aku buat untuk diriku sendiri.Dusta murahan yang membuat manusia menjadi bahan olok-olok di dapur rumahnya sendiri.Suara panci, piring, gelas dan sendok yang menjadi gaduh.

Tapi aku terus memikirkannya.Berhari-hari.Aku merasa keinginan itu seharusnya bisa aku lakukan.Mustahil aku tak bisa melakukannya.Aku membayangkan perpindahan seperti itu sesuatu yang seharusnya bisa dimiliki siapapun. Aku membayangkan tubuh itu tidak beda jauh saat aku menyalakan lampu listrik. Cahaya tiba-tiba hidup di dalam tabung kaca. Ketika listrik aku matikan,
cahaya itu juga ikut mati. Ia tidak berjalan keluar dari tabung kaca itu. Tapi mati.Padam.Darah bisa keluar dari tubuhku, keringat juga bisa menetes.Aku memikirkannya hingga musim hujan datang.Dan semua tentang pikiran itu berubah, saat hujan pertama betul-betul datang, turun di halaman rumah.

Aku menatapnya dari balik jendela kaca.Tiba-tiba hujan itu membuka pintu rumahku.Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di depan pintu. Tubuhnya seperti gumpalan awan berwarna hitam legam.Ada suara halus yang terdengar dari dalam gumpalan awan hitam itu, seperti suara pesawat yang berbunyi konstan.Sejak itu aku mulai bersahabat dengannya.Aku memanggilnya hujan di pagi hari.

***
PAGI itu aku sedang berjalan bergandengan bersama hujan. Udara dingin.Angin membuat tirai dari air hujan, tipis, seperti ciuman di leher menjelang bangun tidur di pagi hari.

"Sudah lama aku menunggumu di lembah itu," kataku.Hujan tak menjawab.Ia menggenggam tanganku seperti merasakan detak waktu yang bergerak. "Manusia tidak menarik karena ia bisa menghitung waktu," katanya.Aku memandangnya.Wajahnya bersih.Rambutnya tersisir rapi.Rapi, seperti rajutan yang terbuat dari air.

"Aku tahu waktu tidak pernah bisa menyentuh dirimu," kataku."Kamu tidak pernah tua.Kamu selalu baru.Kamu tidak mengenal tubuh yang tumbuh menjadi dewasa, lalu tua, sakit dan mati.Kamu tidak pernah merasakan sakit, terluka, dan kesepian."Hujan lalu membelah dirinya dengan belahan-belahan yang berulang.Cahaya biru yang tipis memancar pada setiap terjadinya pertemuan antarbelahan itu.

"Ini hari yang istimewa untukmu juga untukku sendiri," katanya."Aku datang 5 mil untuk menemuimu pagi ini, berlari menuruni lembah, menerjang hutan bambu dan mematahkan sebuah jembatan di sebuah sungai yang airnya deras dan berbatu-batu."

"Di musim bunga tahun lalu, ketika kupu-kupu hampir setiap pagi membuat tarian di lembah itu, dan cahaya matahari seperti sedang menciptakan tubuhku dari daun-daun kacang di lembah itu, aku sangat berharap kamu datang di lembah itu.Tapi kemudian aku sadar, kamu tidak mungkin menemuiku.Aku juga tidak mungkin menemuimu.Sudah kodratnya begitu.Kita saling berpapasan, tapi tidak pernah saling mengenali."

"Kenapa kamu terkunci dalam bahasa seperti itu, seakan-akan kamu percaya ada yang tidak bisa saling menyentuh, ada yang tak bisa saling mengenal di dunia ini?" tanyanya."Kita tidak pernah bisa saling bertemu karena kamu punya kepercayaan seperti itu.Kepercayaan yang sia-sia."

Ketika kami menuruni batu-batu berkapur, hujan merembes ke dalam batu-batu berkapur itu, lalu mengucur kembali lewat batu-batu kerikil.Aku takjub melihat hujan yang bisa merembes.Aku takjub melihat hujan yang membuar arsitektur dari air.Dia yang telah membuat ruang menari.Dia yang telah memberi bentuk mati menjadi bentuk yang bergerak.Dia yang menghidupkan dan mengajak bermain kembali dengan memori-memori lama.Dia yang merajut kembali semua peristiwa dan lalu membiarkan kembali semua rajutan itu merembes ke dalam tanah sebagai air, melewati akar-akar rumput dan senyap.Dia yang memiliki keindahan yang tak tergantikan dan tak siapapun bisa memilikinya.

Aku tahu ia memang tak tersentuh. Aku tidak bisa menetes dan merembes.Aku terpisahkan oleh bahasa dan tubuhku sendiri yang telah menutup duniaku.

Hujan menatapku.
Matanya seperti ratusan jarum yang saling merajut.
"Aku ingin memberi warna pada dirimu," kataku.
"Sebentar lagi akan ada pelangi yang turun di lembah ini, membuat lingkaran tipis, seperti garis-garis tangan pada telapak bayi. Semua kupu-kupu menganggap pelangi itu adalah ibu mereka."

Aku memeluk bahu hujan.Air menetes di telapak tanganku.Terus menetes.Suara hujan yang jatuh di atas sebuah batu, menciptakan suara ketukan yang padat dan konstan.Hujan yang deras turun di kepalaku membuat mataku seperti dipenuhi oleh tangisan yang datang dari luar diriku. Mataku seperti berada di dunia yang lain, dunia dari tangisan yang datang dari luar. Aku tahu mataku tidak menangis.Tidak ada air mata.Aku yakin memang tidak ada air mata.Mataku meyakinkan diriku berkali-kali, ini bukan hujan, ini tangisan yang datang dari luar.Mataku seperti telah meninggalkan tubuhku di lembah itu, karena keyakinannya bahwa ini bukan hujan, melainkan tangisan dari luar.Tubuhku tidak bodoh, dan tidak perlu membuktikan lagi bahwa ini hujan.

Hujan lalu menepuk bahuku.Air mengucur deras di kepalaku yang botak."Hei, tolong, jangan main-main seperti ini.Jangan mempermainkan kepalaku yang botak dengan hujanmu.Jangan memain-mainkan jantung dan ginjalku.Kamu tidak bisa merembes ke dalam pikiranku walau kepalaku botak.Aduh jangan kurang ajar, dong.Nanti aku lempar kamu dengan kepalaku."

Aku mengeluarkan payung dari tas punggungku. Aku juga mengeluarkan jas hujan dan memakainya. Suara hujan membuat bunyi ketukan lain di atas atap payungku. Bunyi ketukannya membuatku yakin tidak akan ada bahaya yang datang dari atas.

***
HUJAN turun semakin deras. Kini aku duduk di atas sebuah batu lengkap dengan payung dan jas hujanku.Daun-daun kacang di lembah itu terus bergetar tertimpa air hujan.Getarannya membuat jejak-jejak yang aneh lewat gelombang-gelombang yang bergerak halus ke arah jempol kakiku.Aku merasa seperti bisa keluar dari tubuhku sendiri.

Tubuhku tiba-tiba menjadi sibuk, berbenah membereskan banyak hal.Aku mulai tak percaya aku sedang duduk, mengenakan jas hujan dan memegang payung.Aku mulai tak yakin dengan mata dan telingaku.Tapi tubuhku ternyata tidak bisa keluar.Ada yang macet di dalam, mampet.Tubuhku tidak memiliki pintu untuk keluar.Aku berusaha menjebolnya.Hujan turun semakin deras, merembes lewat pori-pori tubuhku.Tubuhku mulai banjir. Aku merasakan seperti ada tanggul yang akan jebol dalam tubuhku karena banjir yang besar itu. Tubuhku tiba-tiba meledak, seperti rajutan karet yang meledak.

***
AKU membersihkan serpihan-serpihan daging di bantal tidurku. Sebagian serpihan itu menempel di kelambu.Sinar matahari menerobos lewat kaca jendela kamar tidurku. Hujan sudah menungguku di teras depan. Kami berjanji untuk pergi berjalan ke sebuah candi hari ini.

Lalu aku keluar dengan payung.
"Kenapa kamu memakai payung?'' tanyanya
"Kenapa aku tidak boleh memakai payung?'' aku balik bertanya.
"Karena aku merasa kamu seperti membawa peti mati di atas kepalamu," katanya.
"Peti mati apa?'' tanyaku.
"Peti mati untukku," jawabnya.
"Peti mati untuk hujan?" tanyaku.
"Hujan di dalam peti mati," tegasnya.
"Ini hanya payung," jawabku."Kamu tidak mungkin bisa terkubur di dalam payung."
"Ah, duniamu tetap terkunci dalam bahasa," kilahnya.
"Tidak.Bahasa hanya kata-kata, lalu kalimat, lalu titik, atau koma."
"Tidak.Kalian telah mengunci dunia kalian di dalam bahasa."
"Siapa yang kamu maksud dengan kalian?"
Hujan lalu merebut payungku, seperti mematahkan kaki kursi yang tumbuh di kepalaku.
Lalu hujan bergelayut di telapak tanganku.Lalu menetes dan membuat kalung di leherku.Lalu bergelayut di daun-daun bambu dan membuat percikan di lantai terasku.Lalu kami tertidur dalam pelukan yang penuh oleh warna hijau.Lalu daun-daun kacang di lembah itu, yang membuat malam dari suara-suara serangga, saling bercerita tentang sekuntum bunga yang belum pernah tumbuh sebelumnya di lembah itu. (*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

CERPEN






Bumi Ketiga
Imron Supriyadi


        Aku tergeragap. Sebuah kilat cahaya telah memecah bongkahan batu besar, tempat selama ini aku tidur di dalamnya. Sulit kuterjemahkan melalui kamus apapun. Sebab, ia datang begitu cepat, sebelum aku sempat membeli kamus dan membukanya dari halaman ke halaman. Mungkin jika kilatan cahaya itu sudah reda,besok atau lusa, akan kutanyakan pada ahli meteorologi, agar aku tidak terus-menerus kebingungan seperti sekarang.
Paling tidak, hari itu, aku mendapat bahan penelitian baru yang selama ini belum terdata oleh lembaga penelitian manapun. Ini adalah pengetahuan baru tentang ilmu bumi. Tapi aku ragu. Atau inikah yang disebut sebagai peristiwa alam yang akan mengantarkan manusia kealam baru? Bumi ketiga? Ah, terlalu lancang aku mendahului inisiatif Tuhan. Tapi…
            Plar…plar! Kilatan itu makin menjadi-jadi. Bongkahan-bongkahan batu itu kini pecah berkeping-keping, dengan berbagai bentuk, yang aku sendiri sulit untuk mengelompokkan menjadi satu, sehingga ia terkumpul dalam beberapa etalase, sesuai dengan jenis dan bentuknya; apakah ia batu marmer, batu akik, pualam, intan atau emas sekalipun. Mungkin anaximandros, anaximenes dan ahli astronomi akan segera membuat teori baru jika mereka turut menyaksikan peristiwa menggemparkan ini. atau bahkan, mereka akan segera membuat ralat besar-besar di berbagai media massa, untuk meluruskan teori kejadian alam yang pernah mereka tulis dalam ratusan buku.
            Tapi, itu bukan urusanku. Toh, semua teori yang pernah mereka cetuskan sudah terlalu lama mendarah daging, sehingga akan tidak segampang itu menerima kejadian baru untuk disusun menjadi satu disiplin ilmu, atau dirangkum menjadi sebuah buku. Sedang “teori” Tuhan melalui wahyu saja memakan waktu yang tidak sebentar untuk diakui kebenarannya. Apalagi teori mahluk yang tidak mungkin mengungguli keilmuan Tuhan. Mudah-mudahan, dalam satu kesempatan nanti akan kutemui Tuhan;.
            Gemuruh longsoran bebatuan yang terpecah oleh kilatan cahaya itu, makin menggumpal, menggelinding dari perbukitan, menuju kedataran rendah, tanp mencari tempat-tempat yang tersembunyi. Seperti daratan kering yang sudah seratus tahun tak tersiram air. Bongkahan-bongkahan yang menjadi kerikil terus memapas kilatan cahaya. Secara perlahan, dari pecahan-pecahan yang seakan terburai dari perut bumi, berubah menjadi warna dan panorama baru. Dari ribuan pori-pori yang sulit diukur diagramnya. Itu, terjelma aneka bentuk kehidupan, yang aku sendiri menerka, bahwa aku sedang dalam kebangkitan baru.
Aku seperti terbangun oleh sapaan Tuhan, sama ketika Ashabul Kahfi juga dihidupkan Tuhan 309 tahun ia terbaring dalam goa. Atau seperti Nabi Yunus yang hidup kembali setelah sekian tahun berada dalam perut ikan.
Oh, kucoba untuk menepis cahaya itu, agar sinarnya tak begitu menyilaukan. Kuambil selembar daun kering untuk melindungi sengatan yang makin menyebar di sekelilingku. Aku terus gagal. Kilatan cahaya itu terus berputar-putar bagaikan sinar laser dalam sebuah panggung pementasan. Ia menyorot ke mana-mana, tanpa sedikitpun aku punya kemampuan untuk mengarah cahaya itu.
“Cukup, cukup! Jangan kau hina aku dengan sinarmu!” Aku makin kewalahan dengan pancaran yang benderang itu. Bermacam tempat kuraih, agar ia dapat tertampung. Tapi semua nihil. Sesekali, sinar itu singgah dalam tempat-tempat kosong. Tapi sedetik kemudian, ia kembali menjalar ke mana-mana, tak ubahnya seperti udara yang selalu menempati ruang-ruang kosong dalam setiap bentuk. Ia masuk dalam botol, cangkir, kotak, kantong baju sampai ke semua lekuk bumi. Tapi tak sesiapa bisa menghalauinya. Ia akan terus berjalan bersama udara.
“Tidak bisakah kau berhenti barang sebentar?” Aku kian kebingungan mencari tempat berlindung.
“Kenapa makhluk sejenismu menjadi bingung dengan kedatanganku?” Ada suara menggema dari balik cahaya itu. “Bukankah kalian semua yang mengharapkan aku segera hadir di sini?”
Suara itu terus memantul ke segala arah. Aku menjadi gagap untuk menjawabnya. Sebab, sebelum ini, aku hanya tertidur pulas dalam sebongkah batu besar yang bisu. Seakan, aku sudah berada pada alam kematian panjang. Seperti tak ada angin, cahaya atau petir sekalipun yang dapat membangkitkanku dari pusara yang membantu.
            Aku makin tak bisa mengendalikan arah cahaya itu. Ia bergerak sesukanya. Membakar semua kebisuan yang gagu. Dalam sebuah bejana, ia menyatu dengan udara, lalu menjelma menjadi air. Berselubung dalam setiap dengus nafas, membasahi pori-pori bumi dengan genangan keringat. Menyusup ke lapisan tanah yang paling bawah, memandikan bumi dengan ribuan mata air, melukis permukaan alam dengan kilauan merah. Cahaya itu telah mencurahkan air mata dan darah. Tak ada yang perlu dipersalahkan. Toh aku dan makhluk sejenisku telah berada dalam wilayah itu. Tak mungkin lagi wahyu turun untuk membuat program transmigrasi ke bumi keempat.
            Cahaya, angin dan udara terus menyatu dalam irama yang sama. Air pun terus bergulung di antara kilatan-kilatan cahaya. Aku, dan mahluk sejenisku makin terasa malu atas ketidak siapan tempat untuk menampung semua itu. Begitu panjang aku terlelap sehingga sama sekali aku tak pernah merasa terlatih untuk membuat bejana-bejana penampungan, yang bisa menempatkan lautan cahaya.
            Bumi pekat. Namun, kilatan cahaya itu tak termakan oleh kepekatanannya. Ia berjalan, merambah memasuki setiap rumah, yang setiap penghuninya menjadi gusar, akan ke mana cahaya itu diarahkan. Titik-titik embun terus menggelembung dikening para tetangga, menggambarkan ketidakberdayaannya menatap kilauan cahaya. Aku hanya menatap iba. Tak sesuatu pun yang bisa kuperbuat, sementara cahaya makin menerpa ke setiap raga. Ke setiap gedung-gedung bertingkat, ke ujung mercusuar, ke menara pagoda, sampai ke sudut desa.
            Pagi buta. Petang menjelang, sampai gulita menggulung siang, aku masih menatap
cahaya dengan gamang. Aku mengais cuilan-cuilan kerikil yang tersisa kemarin siang. Tapi yang terpantul hanya goresan luka. Dalam sebuah peta, puluhan, bahkan ratusan wajah kehilangan cinta. Dalam hatinya tertoreh sebuah kata: masih adakah cinta di sana? Tak sesiapa yang menjawab, desau angin terhantar, hanya membawa bau anyir darah, dan kabar kematian.          
            Cahaya masih berada di atas mega. Namun sinarnya takkan terhenti sampai di sini. Ia kini bukan saja menjadi air, tetapi juga duri-duri tajam, pedang, sabit, celurit dan segala bentuk rupa yang makin sulit terjamahkan dengan logika. Ia terus bergerak, menembus setiap jendela, menghujam pada semua bejana, meskipun aku dan makhluk sejenisku tetap tak punya kemampuan untuk berjalan beriringan bersama cahaya. Entah, esok, lusa dan sampai kapan, aku dan kami semua terus berada dalam bumi ketiga yang gagap. Kini hanya satu jawaban; besok sebelum subuh tiba, aku akan berlari untuk menjumpai Tuhan, dan belajar dari keagungan-Nya, agar aku tidak terus berkepanjangan merasa bodoh berjalan bersama cahaya.

Lahat-Sumsel 1999-2002





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MAKALAH SEMANTIK



Description: UNM
 




 MAKALAH SEMANTIK BAHASA INDONESIA
MAKNA KONOTATIF






OLEH :
RISKA ULFA DWI DAMAYANTI
1351040023

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MENENTUKAN UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK DALAM PUISI KARANGAN SENDIRI



TUGAS TEORI SASTRA
 
TITIK MUNAJAT
 (Karya : Riska Ulfa Dwi Damayanti)
Pelupuk memandang rintik
Melewati malam-malam
dengan mengeja risalah-Nya
Berkawan hening memegang sunyi

Rasa ini diam tak berdetak,
Ketika batin tersimpuh lumpuh
Menatap lara dan lapa
Semakin rapat menusuk napas

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MAKALAH KETERAMPILAN BERBICARA



BERBICARA DI DEPAN UMUM
BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
     Berbicara bukanlah sekedar “ngoceh”, tetapi berbicara yang menarik (atraktif), bernilai informasi (informatif), menghibur (rekreatif), dan berpengaruh (persuasif). Dengan kata lain, manusia harus berbicara berdasarkan seni berbicara atau yang disebut dengan retorika atau seringkali diistilahkan dengan pidato.
Pidato merupakan kegiatan berbicara yang kita lakukan di depan umum. Namun, tidak semua orang dapat melakukan hal tersebut. Hal itu karena, ketidaksiapan ataupun tidak adanya pengalaman berbicara di hadapan orang banyak meskipun pada dasarnya setiap orang dapat berbicara.
Di kalangan mahasiswa, pidato menjadi salah satu materi yang wajib dipelajari karena menjadi salah satu bagian dari materi dan pembelajaran dalam mata kuliah Keterampilan Berbicara,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Puisi tentang Muslimah

BATIN SYAIR ITU... 

Wanita Muslimah

Engkau bak mutiara yang terjaga
Keanggunanmu ternaungi fitrah
Kelembutanmu perasaanmu mengharumkan namamu
Ketundukanmu menjinakkan nafsu
Mengelukanmu diantara penduduk langit

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BELAJAR ILMU TAJWID

Tingkatan Bacaan Dalam Al-Quran
1. Al-Hadr
Al-Hadr adalah bacaan yang dilakukan dengan cepat tetapi masih tetap memperhatikan ilmu tajwidnya. contohnya : Qiro'ah Syeikh Musyari.
2. At-Tadwir
At-Tadwir adalah bacaan yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat atau sedang-sedang. contohnya : Qiro'ah Abu Usamah.
3. At-Tartil
At-Tartil adalah bacaan yang lambat dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmu tajwid dan mentaddaburinya. jenis bacaan ini adalah jenis bacaan yang paling bagus. 
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
(QS: Al-Muzzammil Ayat: 4)
4. At-Tahqiq
At-Tahqiq adalah bacaan yang lebih lambat daripada tartil yang lazim digunakan untuk mengajarkan Al-Quran.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS